Selamat Datang di A+ Holy Store

Jumat, 02 Januari 2015

Korona Fransiskan


 

korona-fransiskan3Keterangan:
1. Dimulai disini, membuat Tanda Salib.
2. Bapa Kami, 10 Salam Maria, Kemuliaan pada tiap  Peristiwa Sukacita.
3. Ditambah 2 kali Salam Maria pada akhir.
4. Ditutup dengan Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan untuk intensi Paus.


Korona Fransiskan atau sering disebut juga “Rosario 7 Peristiwa Sukacita Bunda Maria” – juga dikenal dengan sebutan “Rosario Serafik” – adalah Rosario 7 peristiwa yang berfokus pada 7 sukacita Bunda Maria. Rosario ini berasal dari tradisi Fransiskan yang diawali sekitar tahun 1422. Saat itu seorang pemuda yang namanya tak diketahui ingin bergabung dengan Ordo Fransiskan. Sebelumnya ia mempunyai kebiasaan menghormati Bunda Maria dengan cara memahkotainya dengan karangan/untaian bunga-bunga segar. Namun kebiasaan ini tidak bisa dilakukannya pada masa novisiat. Sewaktu ia tergoda untuk mengundurkan diri dari Ordo, ia mendapat penglihatan dari Bunda Maria, yang berkata kepadanya, “Janganlah sedih dan muram, anakku. Karena engkau tak perlu lagi meletakkan karangan bunga pada patung ku. Aku akan mengajarkan kepadamu bagaimana menggantikan kebiasaan baik ini dengan sesuatu yang akan lebih menyenangkan aku dan lebih bermanfaat untuk jiwamu. Sebagai ganti untaian bunga yang bisa segera menjadi layu dantidak bisa selalu ditemukan, engkau dapat membuatkan bagiku sebuah mahkota dari untaian bunga doa-doamu yang akan tetap segar.”

Kemudian Bunda Maria meminta sang novis berdoa satu kali Bapa Kami dan 10 kali Salam Maria untuk menghormati Tujuh Peristiwa Sukacita: Maria Menerima Kabar Sukacita dari Malaikat Gabriel, Kunjungan ke Elizabeth Saudarinya, Kelahiran Yesus, Persembahan Tiga Raja, Yesus Ditemukan di Bait Allah, Kebangkitan Yesus, dan Kenaikan dan Pemahkotaan Bunda Maria di Surga.
Saudara dina muda ini mulai berdoa seperti diminta Bunda Maria. Dan saat ia tengah dalam-dalamnya berdoa, magister novis memperhatikannya dan melihat malaikat sedang merangkai untaian bunga mawar segar, dan disisipkan setangkai bunga bakung emas pada tiap-tiap 10 untai mawar. Setelah doa novis itu selesai, malaikat memahkotakan kepadanya karangan bunga itu.
Magister novis bertanya apakah novis itu mengetahui penglihatan tersebut, dan setelah sang novis menjelaskan  semuanya, saudara magister memberitahukan hal ini kepada  saudara-saudara dina lainnya. Demikianlah tersebar praktek pendarasan doa tersebut yang dikenal dengan nama “Korona Fransiskan”.
Untaian 10 Salam Maria untuk Tujuh Peristiwa Sukacita jika dijumlahkan menjadi 70 Salam Maria. Namun dua buah Salam Maria kemudian ditambahkan sehingga menjadi 72 untuk menghormati usia Bunda Maria selama hidup di dunia.
Untuk mendoakan Korona Fransiskan, para saudara cukup memulainya dengan doa Bapa Kami yang diikuti 10 Salam Maria untuk tiap-tiap 7 Peristiwa Sukacita (tidak diperlukan jeda meditasi untuk tiap-tiap sukacita). Lalu ditambah 2 Salam Maria setelah selesai 70 untaian Salam Maria, kemudian diakhiri dengan Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan sebagai intensi untuk Bapa Paus.
Ada banyak variasi lain untuk mendaraskan Rosario Serafik ini: ada yang menambahkan Aku Percaya, 3 Salam Maria, dan Bapa Kami (seperti halnya pada Rosario Dominikan – rosario yang biasa) sebelum untaian 7 Sukacita; ada juga yang menambahkan Kemuliaan pada akhir tiap-tiap 10 Salam Maria. Apa pun variasinya, intinya adalah membawa umat beriman lebih dekat kepada Tuhan Allah melalui perantaraan Bunda Maria.
Sumber:
A Journey of Faith: The Seven Joys of Mary, Thomas Bourque, T.O.R.

 kunjungi : http://www.freewebstore.org/Aplus-Holy-Store

ROMO PAIJO

Kumpulan CERGAM Kartun Otokritik Romo Iko
Harga Rp 40.000
Anda hemat Rp 4.000

http://www.shoppingseru.com/uploads/images/2014/01/8828e5-large.jpg

Romo Paijo adalah salah satu dari sebuah karya yang menuangkan otokritik terhadap kehidupan menggereja terutama kehidupan para penggembala. Pengalaman Romo Paijo itu tertuang dalam karikatur ini menjadi bahan refleksi terhadap tugas pastoral. Setiap pembaca berhak menafsirkan apa saja yang terlintas. Karya ini hanya ingin menampilkan sedikit kata, tetapi mempunyai banyak makna.
"Di tengah zaman yang sudah sedemikian maju dan supersibuk, sebuah gambar pasti akan lebih mudah diterima untuk mewakili ribuan kata. Untuk itu apresiasi harus kita berikan kepada Romo Jatmiko yang masih tetap rajin membuat kartun atau karikatur." (Adrianus Darmawan, Ketua Komsos BMV Katedral Bogor)
"Jarang-jarang seorang Romo yang agenda kegiatannya padat masih sempat bikin kartun lucu. Ya, Romo Iko orangnya. Rektor Seminari Stela Maris Bogor. Ternyata oke juga karyanya. Yuks, kita apresiasi, tidak hanya dengan tepuk tangan... tapi, ya dibelilah cergam ini hehehe...." (Benedictus Rudatino)
Soft Cover 21 x 14 cm; 112 hlm
penerbit dan toko rohani obor

Selasa, 30 Desember 2014

Sakramen Ekaristi

APA ITU MISTERI EKARISTI? Yesus hadir di dunia sekarang ini dengan berbagai cara, tetapi Ekaristi adalah saat di mana Yesus hadir secara paling istimewa. Saat Misa, imam mengucapkan doa khusus yang merupakan pengulangan kata-kata Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir bersama dengan para murid-Nya, "Inilah Tubuh-Ku. Inilah Darah-Ku." Dengan kuasa Allah, Yesus hadir dalam Ekaristi saat imam mengucapkan kata-kata tersebut. Meskipun yang kita lihat hanyalah sepotong hosti putih yang kecil, yang bentuknya seperti roti dan rasanya juga seperti roti, namun demikian sejak saat konsekrasi (saat imam mengucapkan doa tersebut) hosti bukan lagi roti, melainkan Tubuh dan Darah Yesus yang hadir dalam Ekaristi. Yah, memang sulit untuk memahaminya - malahan, rasanya tidak mungkin membayangkannya. Namun, itulah kebenaran yang disampaikan Yesus kepada kita, dan kita percaya pada-Nya. Banyak orang yang mempunyai pengalaman yang menakjubkan mengenai kehadiran Yesus saat mereka menerima Ekaristi dalam Komuni Kudus. Yesus mengasihi kita dan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Ia ingin senantiasa bersama-sama kita sampai akhir jaman. Sebaliknya, Ia pun berharap kita mau membalas kasih-Nya. Yesus menantikan balasan cinta kita kepada-Nya dalam Ekaristi. Kita dapat mengatakan pada-Nya bahwa kita mencitai-Nya ketika kita menerima Komuni Kudus dan ketika kita berdoa kepada-Nya kapan pun juga.  


MENGAPA ROTI KOMUNI DISEBUT HOSTI? Hosti berasal dari bahasa Latin `Hostia', artinya kurban. Ketika Yesus wafat disalib, Ia mempersembahkan Diri-Nya sebagai kurban untuk menghapus dosa-dosa dunia. Kurban adalah sesuatu yang kamu relakan bagi orang lain. Selama Masa Prapaskah kita berkurban tidak makan permen atau menonton acara TV favorit kita sebagai silih atas dosa-dosa kita terhadap Tuhan.

Ketika kita menerima Hosti, kita mempersatukan diri dengan kurban Kristus. Kita juga mengatakan kepada Tuhan bahwa kita menyesal atas dosa-dosa kita. Tuhan menjawab, “Baiklah, Aku mengampunimu.”
 
APAKAH HOSTI BISA RUSAK? Ada suatu mitos yang mengatakan bahwa begitu hosti telah dikonsekrasikan dan menjadi Tubuh Kristus, hosti tidak akan pernah bisa rusak. Hal ini tidak benar, karena Komuni Kudus masih tetap memiliki kualitas roti dan anggur meskipun keduanya telah sepenuhnya diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Roti dan anggur tetap memiliki rasa dan rupa asalnya dan tetap memiliki sifat-sifat asalnya pula, misalnya batas kadaluarsanya.

Jarang sekali terjadi hosti melampaui batas kadaluarsanya, karena dua alasan:
1. Tingginya tingkat yang dibagi dan terbatasnya jumlah yang dikonsekrasikan, menjamin hosti dipergunakan sesegera mungkin.
2. Hosti relatif kering karena tidak mengandung ragi. Keadaan lembab menyebabkan berkembang biaknya bakteri - keadaan kering menghalangi terjadinya hal tersebut.

Pada umumnya, imam mengkonsekrasikan hanya cukup hosti untuk sekali Misa, dengan sedikit sisa untuk keperluan kunjungan kepada mereka yang sakit. Diakon yang menghantar Hosti Kudus kepada orang-orang sakit mempergunakan hosti sesuai keperluan dan mengembalikan sisanya ke Tabernakel Gereja. Dalam menghantar Hosti Kudus, Diakon harus sungguh cermat memperhatikan apakah hosti yang hendak ia bagikan sudah dikonsekrasikan atau belum.

Bagaimana jika hosti sungguh menjadi rusak? Di kebanyakan gereja terdapat suatu wastafel khusus yang disebut “Sacrarium”.  Wastafel ini tidak menyalurkan airnya ke pipa-pipa pembuangan, tetapi langsung ke tanah. Jika hosti yang telah dikonsekrasikan menjadi rusak, imam akan merendamnya dalam air hingga larut, lalu menuangkan airnya ke dalam Sacrarium. Hosti tidak boleh dikubur atau dibakar.
 
http://yesaya.indocell.net/b2896c00.jpg
 

Senin, 29 Desember 2014

ROSARIO


Rosario sebenarnya adalah doa renungan atas misteri keselamatan (dari saat Yesus mulai dikandung sampai Ia dimuliakan di surga dan mengutus Roh Kudus – seluruhnya 20 peristiwa). Sembari mendaras Salam Maria berulang-ulang (10 kali), para pendoa merenungkan salah satu misteri yang dirangkai dalam rosario.
Doa yang terus diulang-ulang ini sangat membantu memusatkan perhatian pada misteri keselamatan yang direnungkan. Tetapi hendkanya diingat bahwa doa-renungan ini harus dibangun dan dipupuk oleh iman; maka baik kaalu bacaan-bacaan singkat, renungan atau ayat-ayat nyanyian disisipkan di antara setiap dasa Salam Maria. Kalau tidak dilandasi iman, ada bahaya bahwa doa rosario menjadi rentetan kata-kata yang kosong.

Tatacara Berdoa Rosario
Dalam nama Bapa
Aku percaya…
Kemuliaan kepada Bapa…
Terpujilah…
Bapa kami…

Salam, Putri Allah Bapa. – Salam Maria..
Salam, Bunda Allah Putra, - Salam Maria..
Salam, Mempelai Allah Roh Kudus. – Slam Maria…

Lalu menyusul “Kemuliaan” dan “Terpujilah” seperti diatas.
Kemudian pemimpin membacakan peristiwa-peristiwa dari rangkaian misteri yang dipilih (lihat di bawah). Selanjutnya menyusul Bapa kami, 10 Salam Maria, Kemuliaan, Terpujilan. Lalu menyusul peristiwa kedua dan seterusnya.


Peristiwa-peristiwa Gembira, khususnya selama Masa Adven dan Natal

1. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel (Luk 1:26-38).
2. Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya (Luk 1:39-45).
3. Yesus dilahirkan di Bethlehem (Luk 2:1-7).
4. Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah (Luk 2:22-40).
5. Yesus diketemukan dalam Bait Allah (Luk 2:41-52).

Peristiwa-peristiwa Sedih, khususnya selama Masa Prapaskah dan tiap hari Jumat
1. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakratul maut (Luk 22:39-46).
2. Yesus didera (Yoh 19:1).
3. Yesus dimahkotai duri (Yoh 19:2-3).
4. Yesus memanggul salib-Nya (ke Gunung Kalvari) (Luk 22:26-32).
5. Yesus wafat di salib (Luk 23:44-49).

Peristiwa-peristiwa Mulia, khususnya selama Masa Paskah dan tiap hari Minggu
1. Yesus bangkit dari kematian (Luk 21:1-12).
2. Yesus naik ke surga (Luk 24:50-53).
3. Roh Kudus turun atas para Rasul (Kis 2:1-13).
4. Maria diangkat ke surga (1Ko r15:23; DS 3903).
5. Maria dimahkotai di surga (Why 12:1, DS 3913-3917).
Peristiwa-peristiwa Terang.
1. Yesus di baptis di sungai Yordan
(Ma 3:16-17)
2. Yesus menyatakan diri-Nya dalam pesta pernikahan di Kana (Yoh 2:11)
3. Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan (Mat4:17-23)
4. Yesus menampakan kemuliaan-Nya (Mat 17:2-5)
5. Yesus menetapkan Ekaristi (Mrk 14:22-24)

www.imankatolik.or.id/doarosario.html

RENUNGAN MALAM : MARI BERSYUKUR


Hanya sebuah cerita namun mungkin bisa membuat kita tersadar betapa pentingnya kita bersyukur kepada diri sendiri dan jangan selalu iri dengan apa yang di lihat oleh mata kepada orang lain yang tampaknya selalu menyenangkan.


Pada suatu ketika ada seekor siput selalu memandang sinis dan iri terhadap katak. Suatu hari, katak yang kehilangan kesabaran karena telah di
 perlakukan demikian oleh siput akhirnya berkata kepadanya: “Tuan siput, apakah saya telah melakukan kesalahan, sehingga Anda begitu membenci saya?”



Siput menjawab: “Kalian kaum katak sungguh selalu menyenangkan dan gembira di lihat, kalian mempunyai empat kaki dan bisa melompat ke sana ke mari, Tapi saya mesti membawa cangkang yang berat ini dan jelek ini, merangkak di tanah, jadi saya merasa sangat sedih terhadap diri sendiri.”


Katak menjawab: “Setiap kehidupan memiliki penderitaannya masing-masing, hanya saja kamu cuma melihat kegembiraan saya, tetapi kamu tidak melihat penderitaan kami (katak).”


Dan seketika, ada seekor elang besar yang terbang ke arah mereka, siput dengan cepat memasukan badannya ke dalam cangkang, sedangkan katak melompat tinggu dan langsung dimangsa oleh elang lewat tangan elang yang perkasa.


Saudara terkasih dalam Kristus, sering kali kita melihat orang lain senang dan gembira dan sering kali kita mengeluarkan kata-kata iri dengki sehingga kita secara tidak langsung menambahkan beban berat kepada seseorang tanpa kita sadari. 


Marilah kita nikmatilah kehidupan kita ini, tidak perlu dibandingkan dengan orang lain. keirian hati kita terhadap orang lain akan membawa lebih banyak penderitaan. Lebih baik pikirkanlah apa yang kita miliki. Hal tersebut akan membawakan lebih banyak rasa syukur dan kebahagiaan bagi kita sendiri. Dan kita juga tidak menambah dosa dengan berkata kepada yang lain, karena kata kata lebih tajam dari pada pedang atau silet.


Mari syukuri dan temukan kebahagiaan yang indah ini lewat rasa syukur yang mendalam kepadaNYA.

Minggu, 28 Desember 2014

Pohon Natal dan Santa Claus

 
Sekarang dari manakah kita mendapatkan kebiasaan memasang pohon Natal itu? Di antara para penganut agama Pagan kuno, pohon itu disebut “Mistletoe” yang dipakai pada saat perayaan musim panas, karena mereka harus memberikan persembahan suci kepada matahari, yang telah memberikan mukjizat penyembuhan. Kebiasaan berciuman di bawah pohon itu merupakan awal acara di malam hari, yang dilanjutkan dengan pesta makan dan minum sepuas-puasnya, sebagai perayaan yang diselenggarakan untuk memperingati kematian “Matahari Tua” dan kelahiran “Matahari Baru” di musim panas.

Rangkaian bunga suci yang disebut “Holly Berries” juga dipersembahkan kepada dewa Matahari. Sedangkan batang pohon Yule dianggap sebagai wujud dari dewa matahari. Begitu pula menyalakan lilin yang terdapat dalam upayara Kristen hanyalah kelanjutan dari kebiasaan kafir, sebagai tanda penghormatan terhadap dewa matahari yang bergeser menempati angkasa sebelah selatan.

Encyclopedia Americana menjelaskan sebagai berikut:


“The Holly, the Mistletoe, the Yule log …are relics of pre-Christian times.”

“Rangkaian bunga Holly, pohon Mistletoe dan batang pohon Yule…yang dipakai sebagai penghias malam Natal adalah warisan dari zaman sebelum Kristen.”

Sedangkan buku Answer to Question yang ditulis oleh Frederick J. Haskins menyebutkan bahwa:

“The use of Christmas wreath is believed by authorities to be traceable to the pagan customs of decorating buildings and places of worship at the feast which took place at the same time as Christmas. The Christmas tree is from Egypt, and its origin date from a period long anterior to the Christian Era.”
ARTINYA;
“Hiasan yang dipakai pada upacara Natal adalah warisan dari adat agama penyembah berhala (paganisme), yang menghiasi rumah dan tempat peribadatan mereka yang waktunya bertepatan dengan malam Natal sekarang. Sedangkan pohon Natal berasal dari kebiasaan Mesir Kuno, yang masanya lama sekali sebelum lahirnya agama Kristen.”

Santa Claus bukan ajaran yang berasal dari paganisme, tetapi juga bukan ajaran Kristen. Sinterklas ini adalah ciptaan seorang pastur yang bernama “Santo Nicolas” yang hidup pada abad ke empat Masehi. Hal ini dijelaskan oleh Encyclopedia Britannica, volume 19 halaman 648-649, edisi kesebelas, yang berbunyi sebagai berikut:

“St. Nicholas, bishop of Myra, a saint honored by the Greek and Latins on the 6th of December… A Legent of his surreptitious bestowal of dowries on the three daughters of an improverrished citizen… is said to have originated the old custom of giving presents in secret on the Eve of St. Nicholas (Dec.6), subsequently transferred to Christmas day. Hence the association of Christmas with Santa Claus…”
ARTINYA:
“St. Nicholas, adalah seorang pastur di Myra yang amat diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin setiap tanggal 6 Desember…Legenda ini berawal dari kebiasaannya yang suka memberikan hadiah secara sembunyi-sembunyi kepada tiga anak wanita miskin… untuk melestarikan kebiasaan lama dengan memberikan hadiah secara tersembunyi itu digabungkan ke dalam malam Natal. Akhirnya tarkaitlah antara hari Natal dan Santa Claus…”
Sungguh merupakan kejanggalan! Orang tua menghukum anaknya yang berkata bohong. Tetapi di saat menjelang Natal, mereka membohongi anak-anak dengan cerita Sinterklas yang memberikan hadiah di saat mereka tidur. Bukankah ini suatu keanehan, ketika anak-anak menginjak dewasa dan mengenal kebenaran, pasti akan beranggapan bahwa Tuhan hanyalah mitos atau dongeng belaka?

Dengan cara ini tidak sedikit orang yang merasa tertipu, dan mereka pun mengatakan:

“Ya, saya akan membongkar pula tentang mitos Yesus Kristus!”
Inikah ajaran Kristen yang mengajarkan mitos dan kebohongan kepada anak-anak? Padahal Tuhan sudah mengatakan:

“Janganlah menjadi saksi palsu. Dan ada cara yang menurut manusia betul, tetapi sebenarnya itu adalah ke jalan kematian dan kesesatan.”
Oleh karena itu, upacara “Si Santa Tua” itu juga merupakan Setan.

Di dalam kitab suci telah dijelaskan sebagai berikut:

“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi itu bukanlah hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.” (II Korintus 11:14)

Dari bukti-bukti nyata yang telah kita ungkap tadi dapatlah diambil kesimpulan, bahwa perayaan Natal atau Christmas itu bukanlah ajaran Kristen yang sebenarnya, melainkan kebiasaan para penyembah berhala (Paganis). Ia warisan dari kepercayaan kuno Babilonia ribuan tahun yang lampau.

KATA BIBEL TENTANG POHON NATAL

Bagaimana Bibel berbicara tentang Natal, atau mencatat pandangan para murid Yesus atau bapak-bapak geraja awal. Jawabannya sungguh sangat mengejutkan bagi kalangan Kristen sendiri. Sebagaimana yang dikatakan Bibel (Alkitab) pada kitab Yeremia 10:2-4 yang berbunyi sebagai berikut:

“Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan.”

“Bukankah berhala itu pohon yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu?

Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang.”

Itulah keterangan yang jelas dari Bibel tentang pohon Natal. Kita dilarang mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa penyembah berhala. Sebab hal itu merupakan perbuatan yang sesat menyekutukan Tuhan. Pada ayat kelima dijelaskan bahwa:

“Pohon itu tidak bisa berbicara, dan orang harus mengangkatnya, karena ia tidak bisa berjalan sendiri.”
“Janganlah takut kepadanya, sebab ia tidak dapat berbuat jahat, juga tidak dapat berbuat baik.”

Sebab mereka bukanlah dewa yang harus ditakuti. Bagi mereka yang tidak pernah membaca atau yang melupakan ayat ini, beranggapan bahwa tidak ada larangan untuk membuat pohon Natal. Tetapi jika telah membacanya, apa yang harus dikatakan?

http://7uchara.blogspot.com/2011/12/sejarah-asal-mula-pohon-natal-dan-santa.html

MENGALAMI TUHAN

Yesaya 55:1-13
Kadangkala kita tergoda untuk berpikir bahwa karena kita adalah orang Kristen, membaca, Alkitab, dan tahu banyak tentang Tuhan, kita mengenal Tuhan. Kebenarannya adalah bahwa satu-satunya cara bisa mengenal Tuhan adalah dengan mengalami-Nya. Banyak pengalaman-pengalaman itu  datang dalam doa. Seraya kita mendengarkan dengan diam, kita dapat benar-benar mendengar Tuhan berbisik dalam hati kita.
  
Soren Kierkegaard mengatakan bahwa kebanyakan dari kita “begitu sibuk,” sehingga kita tidak mau menunggu Tuhan dengan sabar. Kita mengang
gap bahwa janji dengan seorang penata rambut tidak bisa dilanggar, namun saat Tuhan mengklaim waktu kita, kita menolak keras. Bukannya menghabiskan waktu bersama Tuhan dan menikmati hadirat-Nya serta meresapi kasih-Nya, kita menciptakan pengganti-pengganti: hal-hal yang dilakukan untuk menggantikan saat-saat bersama-Nya. Kita mempersembahkan pujian, melakukan perbuatan-perbuatan baik, menghafalkan ayat-ayat Alkitab, itu semua adalah kegiatan yang baik, namun tidak setara dengan berdiam diri di hadapan-Nya.
  
Nilai tertinggi dari doa terdapat dalam mengembangkan hubungan dengan Tuhan. Dibutuhkan baik waktu maupun kesediaan kita untuk menerima dari-Nya. Tidak ada pengganti untuk yang mana pun dari keduanya.

“Nilai dari doa yang tekun bukanlah bahwa Ia akan mendengar kita,
namun bahwa kita pada akhirnya akan mendengar Dia”

(Sumber: Kisah-kisah Rohani Pembangkit Semangat: untuk pendoa)